RSUD dr.R.Soetrasno Gandeng PWI Bedah Keterbukaan Informasi

oleh -

REMBANG – Kerja Wartawan untuk peliputan berita di wilayah rumah sakit tak jarang menemui kendala. Padahal Pers dilindungi Undang-undang RI no. 40 tahun 1999 tentang Pers BAB VII pasal 18 ayat 1.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang Musyafa saat Seminar Kajian Hukum Kesehatan Dalam Pelayanan Dan Informasi Medis di rumah sakit dr. R. Soetrasno Rembang, belum lama ini menyebutkan pihak yang menghalangi kerja wartawan atau pers, bisa dijerat ancaman pidana 2 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 500 juta.

Meski demikian kerja pers tidak bisa sembarangan memberitakan. Jika mengacu Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), ada 10 jenis informasi yang tidak boleh diberitakan, salah satunya tidak memperinci rahasia pribadi termasuk rekam medis seseorang yang merupakan privasi.

“Namun hak privasi seseorang juga dibatasi oleh kepentingan publik. Contoh seperti peristiwa kecelakaan, wabah penyakit, bencana alam, identitas korban bisa diberitakan, tanpa mengganggu privasi, “ terang Musyafa.

Dokter forensik Rumah Sakit Karyadi Semarang sekaligus dari Badan Hukum Dan Pembelaan Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Tengah Gatot Suharto menyampaikan berdasarkan kode etik kedokteran, seorang dokter wajib merahasiakan rekam medis pasien. Bahkan sampai pasien meninggal dunia sekalipun.

Hal tersebut tercantum dalam pasal 16 kode etik kedokteran mengenai batasan antara privasi dan publik. Ia berharap masing-masing pihak dapat memahami pokok fungsi masing-masing.

“Ini tercantum dalam pasal 16 kode etik kedokteran. Tadi sudah disampaikan bagaimana batasan antara privasi dan publik. Kita berharap mereka saling memahami tugas pokok fungsi masing-masing “ kata dr. Gatot.

Untuk membuka pengetahuan tenaga medis dari sudut pandang keterbukaan pers dan hukum kesehatan perlu diadakan seminar seperti ini. Ke depan RSUD dr.R.Soetrasno akan membuat media center untuk mengkomunikasikan segala permasalahan yang mungkin terjadi ke depannya. ( Rendi/Mifta )