Oktober Plan Pamit, Pemkab Siapkan Strategi Tekan Pernikahan Dini

oleh -

REMBANG – Program “Yes I Do” dari Plan Internasional Indonesia berhasil menekan pernikahan anak usia dini sebesar 85 persen di Kabupaten Rembang. Program yang diterapkan pada akhir tahun 2016 di Kabupaten ini akan berakhir Oktober 2020 mendatang.

Hal tersebut disampaikan oleh Project Manager Yes I Do dari Plan Internasional Indonesia Budi Kurniawan dalam kegiatan pertemuan laporan program dan diskusi keberlanjutan Upaya penurunan angka perkawinan usia anak melalui program “Yes I Do” di aula lantai 4 Kantor Bupati Rembang, Kamis (20/2).

Dirinya menyebutkan empat desa dari 2 Kecamatan yang menjadi binaan, rata-rata pernikahan dini hanya menyisakan 1 bahkan nol kasus. Desa tersebut yakni Desa Menoro Kecamatan Sedan, Desa Mojosari Kecamatan Sedan, Desa Woro Kecamatan Kragan, dan Desa Ngasinan Kecamatan Kragan.

Ditahun terakhir program ini Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) yang telah dibetuk diminta agar terus berfungsi untuk kedepannya. Yang terpenting yaitu KPAD dapat membuat laporan dalam penggunaan dana desa untuk menciptakan kegiatan positif bagi anak-anak.

“Dana desa kan besar, KPAD harus bisa menginisiatif pembuatan kegiatan kelas bisnis bagi anak-anak muda. Tujuannya bukan untuk dapat uangnya, tapi anak-anak itu punya kegiatan kesibukan yang positif. Jadi tidak mikir lagi untuk menikah, sekarang kan kegiatan kosong pacaran. Sekarang diarahkan untuk bisnis, disamping mereka mengisi waktu luang juga dapat penghasilan dan menabung sendiri,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Rembang Dwi Wahyuni mengatakan salah satu strategi pemkab untuk mengadopsi program Yes I Do yaitu dengan membuat pakta integritas. Pakta integritas ini nantinya akan mengikat Pemerintah Kabupaten, Kecamatan maupun Desa untuk satu strategi dan komitmen mencegah perkawinan anak usia dini.

“Tadi sudah sepakat akan menggelar workshop memberikan penjelasan kepada kepala desa yang baru. Setelah dijelaskan nantinya juga ditunjukan tes timoni dari warga yang sudah menjalankan program Yes I Do tersebut, ” bebernya.

Selain di Desa, Pemkab juga menyasar dunia pendidikan dimana lama waktu sekolah anak sangat penting untuk mencegah perkawinan anak usia dini, disamping itu juga untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang ada di Rembang. Nantinya sekolah juga akan diberikan program untuk mengetahui tumbuh kembang anak dan kesehatan reproduksi remaja melalui Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan guru Bimbingan Konseling (BK). ( Rendi/Mifta )