Mural Seni Legal Sampaikan Pesan Moral Melalui Tembok Bangunan

oleh -224 views

REMBANG-cbfmrembang.com, Banyak orang yang sering melihat lukisan pada dinding-dinding yang ada di jalanan atau pun trotoar disebagian wilayah Rembang. Bahkan juga sering terlihat lukisan pada dinding-dinding rumah atau bangunan yang sudah tidak terpakai atau tidak berpenghuni.

Karya lukisan tersebut adalah sebuah seni mural yang dilakukan oleh beberapa kelompok orang seniman Rembang yang hobi menggambar. Salah satu senimannya adalah Yuniarto Suryo Prabowo dari Desa Magersari, Kecamatan Kota Rembang.

SEPEDA SANTAI POLRES REMBANG, HUT BHAYANGKARA KE-73

Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot, Mural lebih bebas dan menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar.

Kini karya mural yang digarap oleh para seniman yang tergabung dalam Serikat Mural Rembang itu sudah merambah hingga luar kota salah satunya Kota Solo.

Yuniarto mengaku awal terbentuknya Serikat Mural Rembang berawal dari keresahan hati melihat aksi pelukis grafiti di jalanan pada sekitar 2015. Kemudian dirinya berpikir untuk mengumpulkan para seniman yang hobi menggambar salah satunya seniman jalan itu hingga beberapa bulan kemudian tercetuslah sebuah agenda perkumpulan.

Dari situlah sebuah ikatan antar sesama seniman grafiti terbentuk. Kemudian lahir komunitas yang diberi nama Serikat Mural Rembang.

“Dari personil yang sering ikut mural itu justru di kegiatan seni aslinya itu mereka bukan mural. Ada artis tato ada lukis wajah, cuman ketika ada kegiatan mural misal ada projek di Rembang atau diluar kota, kita ajak bareng ayo kita menggambar ditembok,” terang Anto sapaan Yuniarto.

Dirinya mengatakan untuk personil tetap dari komunitasnya saat ini belum ada. Namun, Anto menyebut, melihat pelukis yang aktif di komunitas ini, jumlahnya sekitar 20-an.

Pada salah satu agenda lomba mural di Solo beberapa waktu lalu, misalnya, terang Antok, komunitas ini memberangkatkan lima orang. Bersama teman-teman sesama pelukis mural daerah lain, mereka pun beraksi di Kota Spirit Of Java.Mereka membuat mural bertemakan batik tulis Lasem dan Gus Mus.

Dalam kesempatan itu, Ia juga menjelaskan bahwa Mural lebih efektif jika digunakan untuk menyampaikan pesan dari apa yang digambar. Pasalnya media tembok yang digunakan akan dapat dilihat banyak orang yang melintas.

” Mural itu lebih bisa dinikmati publik, karena memanfaatkan media ruang publik sehingga setiap orang dapat mengakses. Sangat jauh berbeda dengan saat kita menggambar di kanvas, harus dipamerkan disebuah museum, perlu pembukaan seremony, mengundang pejabat dan lain-lain justru malah penyampaiannya pesennya kurang menjangkau masyarakat kalangan bawah, kalau di tembok bisa dilihat lebih banyak orang,” bebernya.
Dalam proses pengerjaan mural membutuhkan waktu paling sedikitnya 2 hari, tergantung pada tingkat kesulitan, jumlah personilnya dan cuaca karena

pengerjaannya berada di luar ruangan. Rencananya pada akhir bulan ini dirinya beserta para anggota komunitas akan beraksi disalah satu tempat strategis di wilayah Kota Rembang. Karena bersifat legal, untuk lokasi tepatnya belum bisa membocorkan karena masih membutuhkan izin untuk menggarap media tembok bangunan.(Rendi / Mifta )