Gubernur Jawa Tengah: Santri Harus Jadi Pelopor Kemajuan Teknologi

oleh -

REMBANG – cbfmrembang.com, Ribuan santri bari berbagai daerah Selasa pagi (22/10/2019) memadati alun-alun kota Rembang untuk ikut mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional ke-5 yang diselenggarakan pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Rembang.

Sebelum upacara sebagai puncak acara, ada sejumlah rangkaian kegiatan yang berpusat di kota garam ini. Diantaranya bazar produk pondok pesantren yang digelar selama tiga hari sejak 19 sampai dengan 22 Oktober 2019. Lomba hadroh tingkat Jawa Tengah, dan Jateng bersalawat bertempat di lapangan Desa Gandrirejo Kecamatan Sedan 21 Oktober kemarin.

Detik-Detik Bangunan Kompleks Kantor Dinas Pertanian Terbakar

Dalam kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo bertindak sebagai Pembina upacara peringatan hari santri. Dalam kesempatan itu Gubernur kembali mengingatkan perjuangan para santri dan kyai yang memiliki andil besar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Hari ini cukup panas, panasnya cuaca tak seberapa bisa kita tahan. Tapi panasnya hati dan pikiran yang merusak harus kita lawan. Perlu sejenak saya mengajak anda semua untuk menengok masa lampau hingga seluruh sendi kehidupan dan kebangsaan kita yang mustahil kita pisahkan dari kehidupan kita yang kita pisahkan dari para santri atau biasa dikenal santri,” kata Ganjar.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika peranan para santri terus berlanjut dari masa kemasa. Saat ideologi Negara sedang terkoyak, Santri dan Kyai memegang peran penting menjadi garda terdepan agar Pancasila tetap berdiri tegak.

Meski nyaris tak tersentuh kebijakan pemerintah, Santri tetap khusus dan tawadhu, samikna wa atokna, kepada Kyai, bahwa hubbul wathon minal iman. Hingga reformasi jadi agenda utama parlemen, Santri melenggang duduk di kursi Presiden. Dan santri terus bergerak dari kamar kecil pondok pesantren terus bergerak dikursi tertinggi di negeri ini.

“Tentu dada kita masih berdebar sangat kuat mengenang pekik takbir para Kyai yang menggerakkan santri di medan pertempuran keringat darah air mata asa dan nyawa dari santri tercecer di bumi nusantara. Namun begitu santri tidak hilang daya, saat peletakan dasar negara santri memegang peran pipelinenya. Juga saat idiologi bangsa hendak terkoyak santri dan kiyai bersatu menghalau agar pancasila tetap berdiri tegak. Meski sempat mengalami mesa tegang karena nyaris tidak tersentuh kebijakan santri tetap khusus dan tawadhu, samikna wa atokna, pada kiyai, bahwa hubbul wathon minal iman. Hingga reformasi jadi agenda utama parlemen, santri melenggang duduk di kursi presiden. Dan santri terus bergerak dari kamar kecil pondok pesantren terus bergerak dikursi tertinggi di negeri ini,” tambahnya.

Di akhir pidatonya, Ganjar berpesan agar para santri Indonesia semangat ngaji ketekunan sinau dan teteknya hati menjadi senjata untuk menghadapi kemajuan zaman. Perkembangan teknologi bergerak seiring dengan kedipan mata. Untuk bisa mengikuti itu, kalau kita sungguh-sunguh.

“Perkembangan teknologi itu tidak bisa kita tolak. Santri musti berdiri dibarisan terdepan diperadapan jaman ini. Bukan hanya ilmu fiqih yang kita tekunmi tapi juga ibudgeting, icomers, ilearning,santri juga harus menguasai hal mutakhir bukan hanya ilmu nahwu balaghoh yang dipelajari saja, tapi software hardware musti didalami, bukan hanya ilmu qur’an, hadis , mantiq, falak, faroid,tapi juga harus faham ,” pungkasnya. ( Asmui / Mifta )