14 Pusaka milik Kabupaten Rembang Diarak pada Malam Tirakatan

oleh -

REMBANG – cbfmrembang.com, Jajaran Pemerintah Kabupaten Rembang Jum’at malam menggelar kirab pusaka (senjata) dan tirakatan pada malam hari jadi Kabupaten Rembang, yaitu malam tanggal 27 Juli 2019.

Kirap pusaka dan gunungan itu dilakukan disekitar keraton, atau di Pendapa Kompleks Museum Kartini Rembang, secara adat Jawa.

DETIK-DETIK RUNTUHNYA KUBAH MASJID JAMI’DESA KARANGASEM KECAMATAN SEDAN

Bupati Rembang H Abdul Hafidz, Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, Sekda Subakti, beserta jajaran OPD mengenakan busana adat lengkap demi melaksanakan upacara sakral pada hari jadi.

Selain upara adat, dalam kesempatan itu juga dilaksanakan tahlil kubro, untuk mendo’akan para pahlawan, dan tokoh pendiri Kabupaten Rembang. Tahlil di gelar di pendapa museum Kartini.

Sebelum kirab dimulai, melaksanakan ritual sakral yakni Bupati Rembang H Abdul Hafidz mengeluarkan senjata-senjata yang dimiliki Kabupaten Rembang untuk dikirab, termasuk Perda dan Perbub didalamnya.

Perbub dan Perda diarak, karena keduanya sebagai lambang alat untuk memegang pemerintah Kabupaten Rembang.

Saat kirab dimulai, nuansa keskralan mulai terasa seiring dikeluarkannya pusaka-pusaka yang di miliki Kabupaten Rembang.

Seni tari, dan gamelan sebagai pengiring menambah sekitar pendapa Kompleks Museum Kartini berada pada jaman kerajaan.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang mengatakan, malam tirakatan merupakan hal sakral yang dilakukan setiap malam hari jadi.

Selain itu ada banyak rangkaian acara sudah digelar sebelumnya. Dan pada puncaknya 27 Juli akan diadakan panggung gembira dialun-alun Rembang, Sabtu esok.

Ketua Panitia kegiatan menyampaikan ada sejumlah kegiatan dalam rangka menyambut hari jadi Kabupaten Rembang ke – 278, seperti berziarah ke makam Bupati Lasem Tejokusumo I sekitar tahun 1585 dan makam Sayyid Abdurrahman Basayaiban atau yang dikenal Mbah Sambu.

Mbah Sambu merupakan tokoh yang menyebarkan agama Islam di masa pemerintahan Bupati Lasem Tejokusumo I. Makamnya berada di kompleks Masjid Jamik Lasem.

Setelah rampung, rombongan bergegas ke makam Pangeran Sedo Laut yang berlokasi di kompleks Masjid Agung Rembang. Dan makam Sunan Bonang, serta makam RA Kartini, dan suaminya K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, serta Taman Makam Pahlawan Giri Bhakti Rembang.

” Kami menyanpaikan terima kasih pada segenap tamu yang hadir. Kegiatan ini dalam rangka menyambut hari jadi Kab. Rembang ke – 278. Sejumlah kegiatan sudah kami lakukan seperti ziarah oleh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) ke makam Bupati Lasem Tejokusumo I sekitar tahun 1585 dan makam Sayyid Abdurrahman Basayaiban atau yang dikenal Mbah Sambu yang merupakan tokoh yang menyebarkan agama Islam di masa pemerintahan Bupati Lasem Tejokusumo I di kompleks Masjid Jamik Lasem. Selain makam Mbah Sambu, ziarah juga dilakukan di makam Pangeran Sedo Laut kompleks Masjid Agung Rembang, makam Sunan Bonang, makam RA Kartini dan suaminya K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, serta Taman Makam Pahlawan Giri Bhakti Rembang,” jelasnya.

Bupati Rembang H Abdul Hafidz mengajak kepada masyarakat Kabupaten Rembang untuk bersyukur karena Kabupaten Rembang yang sekarang berbeda jauh dengan yang dulu. Utamanya pada masa penjajahan.

Ia juga meminta masyarakat Kabupaten Rembang untuk senantiasa mendoakan para pendahulu Kabupaten Rembang yang telah rela berjuang mengusir penjajah demi kemerdekaan.

“Saya yang dituakan di Kabupaten Rembang sangat senang dengan kegiatan ini, sebagai bentuk bersyukur kita kepada Allah SWT. Sekaligus memperingati Hari Jadi Kabupaten Rembang ke – 278. Yang semula tidak seperti ini, karena perjuangan kita bisa bisa mengusir penjajah. Oleh karena itu, saya berterima kasih banyak kepada pemimpin yang dahulu sudah bertekad bulat menetapkan hari jadi Rembang yang di kuatkan oleh peraturan daerah, maka malam ini saya berharap kepada bapak DPRD mau membacakan riwayat sejarah Kabupaten Rembang sebelum tahun 278 yang lalu,” kata Bupati Rembang saat pidato menggunakan bahasa Jawa.

Kirab budaya diiringi oleh tari gambuh yang diperagakan oleh para seniman muda. Para paguyuban budayawan yang tergabung dalam Parmadani menjadi ujung tombak kegiatan tersebut memanggil gunungan berupa tumpengan nasi.

Setelah kirab rampung Bupati Rembang memecah kendi sebagai penanda kegiatan rampung, dan berlanjut pemotongan tumpeng. Tumpeng dipotong Bupati Rembang, potongannya diberikan kepada perwakilan DPRD Rembang sebagai simbol perwakilan rakyat. ( Asmui / Mifta )