Sandra Kapal, Nelayan Tunggulsati Bersitegang Dengan Nelayan Pasar Banggi

oleh

REMBANG – cbfmrembang.com, Suasana tegang terjadi di Desa Tunggulsati sejak hari Minggu 12 Mei 2019 kemarin. Pasalnya nelayan di desa ini menyandra kapal cukrik milik nelayan Desa Pasar Banggi, kecamatan kota dan Pandangan Wetan Kecamatan Kragan.

Ada empat kapal yang disandera, tiga cukrik merupakan milik warga Desa Pasar Banggi, dan satu lainnya milik warga Pandangan Wetan.

Razia Gabungan Jelang Lebaran, Petugas Temukan Kendaraan 1 Bus Melanggar

Empat kapal ini diamankan warga Tunggulsati diwilayah perairan setempat. Kapal-kapal ini dianggap membuat rusak alat tangkap rajungan atau bubu yang dipasang nelayan Tunggulsari.

Kapal-kapal ini digiring nelayan Tunggulsari hingga ketepi pantai desa setempat. Nelayan dari dua desa tersebut dilepaskan, sedangkan kapal mereka harus ditinggalkan.

Sesampainya di Desa Pasar Banggi, masyarakat yang mendengar kejadian itu, warga Desa Pasar Banggi naik darah, dan hendak mendatangi Desa Tunggulsari dengan membawa massa. Namun aksi tersebut berhasil diredam aparat kepolisian sampai menunggu perundingan.

Pertemuan para nelayan baru dapat dilakukan pada Senin pagi untuk mediasi di kantor Dinas Kelautan Dan Perikanan, bersama aparat gabungan. Hasilnya, mereka mufakat dan kapal yang disandera dilepaskan.

Kepala Desa Pasar Banggi, Rembang, Rasno mengaku lega kapal bisa dikembalikan. Ia berharap setelah berlangsung mediasi, tidak muncul konflik berkepanjangan.

Kapal yang disandera kebetulan menggunakan alat tangkap jenis gilnet. Karena saat ini musim ikan tengiri.

“Tadi yang hadir cukup banyak. Mulai pak Camat Rembang, Camat Kaliori, kemudian aparat TNI/Polri juga datang. Nelayan kita pakai jaring gilnet. Kebetulan ini musimnya nyari ikan tengiri, memang kalau nyari sampai pesisir Kaliori, “ terangnya.

Dihubungi secara terpisah salah satu nelayan Desa Tunggulsati menjelaskan, penyanderaan sebagai upaya efek jera nelayan dari luar kampung berhati-hati saat mencari ikan di pesisir pantai utara Desa Tunggulsari. Ia berharap ketika nelayan menebar jaring, menjauhi bubu perangkap rajungan yang sudah dipasang nelayan setempat.

“Yang penting alat tangkap pencari rajungan aman. Soalnya begitu rusak tersangkut jaring, kita yang rugi. Kalau ada kejadian ini nelayan yang beroperasi di pesisir Tunggulsari, kan akhirnya mau hati-hati. Intinya, sama-sama bisa saling menghormati, “ katanya.

Dalam pertemuan itu, para nelayan membuat kesepakatan, yakni meminta para nelayan harus menghindari jaring bubu saat menebar jaring. Dan, saling menjaga lingkungan laut agar tidak merusak terumbu karang. Bagi nelayan yang memasang jaring, harus ada rambu-rambu, agar nelayan lain tau jika ditempat tersebut terdapat jaring atau perangkap ikan lain. (Asmui/Mifta)