Petani di Turusgede Tata Jalan Pertanian Secara Swadaya

oleh
Saat para warga Dukuh Turus Tengah Desa Turusgede bergotong royong untuk membuat jalan makadam pertanian

REMBANG – cbfmrembang.com, Para petani di Dukuh Turus Tengah Desa Turusgede menyambut gembira mulai datangnya musim penghujan. Sebagian dari mereka sudah mulai menggarap lahan untuk mempersiapkan musim tanam padi yang sebentar lagi akan dimulai.

Sebagai persiapan mereka juga menata saluran irigasi pengairan supaya lancar kelak jika intensitas hujan meningkat. Tak ketinggalan, jalan pertanian juga menjadi salah satu kebutuhan infrastruktur penting bagi mereka dalam mengangkut hasil panen. Para petani yang didominasi kaum muda itu mulai berfikir cerdas, menjadikan lahan pertanian sebagai sektor perekonomian diwilayah ini.

Untuk bergerak selangkah lebih maju dari petani yang lain, mereka swadaya untuk membuat jalan makadam sepanjang hampir satu kilometer. Jalan sepanjang itu menjadi akses ratusan petani untuk menggarap sawah puluhan hektar.

Penataannyapun dilakukan dengan cara bergotong royong. Pola pikir merekapun mulai berubah. Untuk bergerak selangkah lebih maju, mereka harus mandiri tanpa mengandalkan bantuan.

Warga saat mengakut matreal pembuatan jalan makadam di Dukuh Turus Tengah Desa Turusgede

Penataan jalan dilakukan oleh puluhan warga di Dukuh Turus Tengah Desa Turusgede kecamatan Rembang, Minggu pagi (09/12/2018). Mereka gotong royong membuat jalan makadam di wilayah setempat. Penataan jalan pertanian tersebut dilakukan secara swadaya, dengan mengumpulkan uang dari para petani.

Salah satu tokoh masyarakat setempat Hari mengatakan, selain menumbuhkan kembali semangat gotong royong, para petani di wilayah ini menginginkan akses pertanian yang layak, tidak becek, meskipun dengan dana swadaya, dan mandiri. Karena sebelum adanya kegiatan ini, para petani kerap kesulitan membawa pulang hasil panen padi, karena terkendala akses jalan yang belum memadai.

“Motivasi kegiatan, karena kita sebagai masyarakat, kita juga butuh kehidupan yang layak dari hasil kita sebagai petani, berarti akses pertanian harus ada. Karena kita berbasis pertanian, masyarakat itu ingin aset-aset pertanian dikala musim hujan tidak becek. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan kegiatan yang bersifat gotong royong yang selama ini seakan-akan terkikis, dengan kegiatan ini kami masyarakat berkehendak untuk memupuk kembali yang bersifat gotong royong berjalan dengan baik,” jelasnya.

Untuk pembelian matrial pembuatan jalan makadam, mereka iuran sukarela. Bagi petani yang memiliki lahan yang luas merekapun menyumbang diatas rata-rata petani yang lain. Bagi petani yang tidak menyumbangpun tidak menjadi masalah, karena demi kebersamaan.

Bagi para petani didaerah ini yang paling penting adalah kebersamaan dalam bergotong – royong. Bukan seberapa besar iuran yang diberikan.

Setelah selesai dalam pembuatan jalan makadam, warga yang ikut terlibat bersama-sama beristirahat sambil menikmati jajanan ringan yang dibawa sebagian dari mereka. Dengan gelak tawa lepas tanpa ada rasa sungkan, mereka mengeringkan keringat, dan menghapus rasa lelah yang mendera. ( Asmui / Mifta  )